Akan Kemana Melabuhkan Cinta?

Jika kita mendengar kata cinta, segala keindahan akan melekat padanya. Sebagaimana hakikat cinta itu sendiri yang mengiringi pandangan kita terhadap bentuk-bentuk keindahan, kebaikan dan kesempurnaan. Bagaimana esensi cinta menurut para ulama? Yuk, kita simak pendapat beberapa ulama salafus shalih mengenai cinta,

Sufyan At Tsauri berkata, “Cinta itu mengikuti Rasulullah.”

Betapa indah pengertian cinta yang ini, karena mengingatkan kita pada sosok Rasulullah saw yang penuh cinta. Dengan mengikuti Rasulullah, kita akan menjadi pecinta.

Ulama lain berkata, “ Cinta adalah selalu berdzikir.”

Siapapun yang sedang jatuh cinta pasti tidak akan melewatkan waktunya untuk mengingat kekasih hatinya. Maka siapa saja yang mencintai-Nya tak akan kering bibir dan hatinya karena berdzikir. Bagaimanapun dengan mengingat-Nya, para pecinta akan merasa tenang dan nyaman. Sebab itulah efek cinta, sakinah dan tentram bersama Sang Kekasih.

Asy Syibli berkata, “Cinta dalah ketakjuban kepada kenikmatan-Nya dan keheranan pada pengagungan terhadap-Nya.”

Sebagian ulama yang lain berkata, “Cinta adalah dekatnya hati dengan yang dicintai dengan perasaan bahagia.”

Dari kesemua pendapat ulama di atas mengenai cinta, yang diungkapkan adalah buah dari cinta. Sedangkan makna dari cinta itu sendiri tidak mudah untuk didefinisikan. Melainkan lebih mudah untuk dirasakan keberadaannya.

Sebuah   pertanyaan yang lahir ketika kita mulai merasakan cinta, berbagai macam cinta yang tumbuh di hati manusia akan berlabuh kemana pada akhirnya? Bila kita jatuh cinta pada seseorang yang wajahnya cantik jelita, dari siapakah ia mendapatkan wajah itu? Bila kita mengagumi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, dari siapa pula ia memiliki keutamaan itu? Warna warni dunia, indahnya pelangi, sejuknya air pegunungan yang membuat kita jatuh cinta, siapakah yang menciptakan semua keindahan itu?

 

-Cinta Kepada Dirinya Akan Berlabuh Kepada Tuhannya-

Rasa cinta yang tumbuh terhadap diri sendiri, kesempurnaan dan kelangsungan hidup akan melahirkan rasa cinta terhadap penciptanya, yaitu Allah SWT. Sebab adanya kehidupan dan berlangsungnya kehancuran semua telah diatur oleh Allah SWT. Dialah Sang Pencipta yang memberi kita kehidupan, menyempurnakan diri kita dengan menciptakan sifat-sifat kesempurnaan. Tidak ada di dunia ini yang berdiri sendiri kecuali karena Allah semata. Sebagaimana sifatNya, qiyamuhu binafsihi, Yang Maha Berdiri Sendiri. Sedangkan yang lain hanya dapat mewujud karena karunia-Nya.

“Cinta adalah buah dari pengenalan (ma’rifah). Rasa cinta akan lenyap bila pengenalan itu lenyap, akan lemah bila pengenalan itu lemah, dan akan semakin kuat bila pengenalan itu kuat.” Demikianlah Imam Al-ghazali menjelaskan.

Hasan Al Bashri pernah berkata, “Barangsiapa mengenal Tuhannya, ia pasti akan mencintai-Nya, dan barangsiapa mengenal dunia, ia pasti akan zuhud terhadapnya.”

 

-Cinta Kepada Kebaikan Akan Berlabuh Pada Tuhannya-

Tak dapat disangkal, bahwa kita semua mencintai kebaikan. Cinta akan bersemi pula kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita, yang membantu kita dengan harta, yang menolong kita dari musuh-musuh, yang berlaku lembut dan santun kepada kita, yang memberikan manfaat kepada kita dan membantu kita mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Berbagai kebaikan itulah yang menyebabkan kita jatuh cinta. Tapi dari manakah datangnya kebaikan-kebaikan itu? Sesungguhnya, bila kita mengetahui dengan sebenar-benarnya, maka kita akan tahu bahwa yang berbuat baik kepada kita tidak lain adalah Allah.  Maka seharusnya kita tidak mencintai selain Allah, sebab kebaikan Allah kepada semua hamba-Nya tidaklah mampu kita menghitungnya.

“ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl :18)

Seorang istri yang dikarunia suami baik, pasti akan mencintai suaminya yang telah berbuat baik kepadanya, menyayangi dirinya dan anak-anaknya, yang bekerja siang-malam untuk menafkahi keluarganya, dan yang membimbingnya di jalan kebenaran. Maka sesungguhnya semua kebaikan suaminya itu semata bermuara pada kebaikan Allah. Dialah yang telah menganugerahi istri tersebut seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Bila ia mencintai suaminya karena kebaikannya, seharusnya ia lebih mencintai Tuhannya yang telah memberi beragam kebaikan termasuk kebaikan seorang suami kepadanya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebaikan (ihsan) seseorang kepada orang lain sebetulnya tidak nyata, tapi hanya sebuah kiasan. Sesungguhnya yang berbuat baik adalah Allah SWT melalui orang tersebut. Jadi orang itu hanya menjadi media, perantara dimana Allah memberi kebaikan melaluinya.

Kebaikan (ihsan) sesungguhnya terletak pada kedermawanan. Dan sikap dermawan yang sebenarnya adalah memberi tanpa pamrih. Tentu hal ini mustahil jika datangnya dari selain Allah. Dialah Yang Maha Pemurah, yang telah melimpahkan karunia kepada alam semesta tanpa pamrih. Segala kebaikan yang kita terima semestinya bagi kita yang mengenal Allah akan menumbuh suburkan rasa cinta kita keoada Allah.

 

-Cinta Pada Orang Baik Akan Berlabuh Pada Tuhannya-

Apa yang kita bayangkan jika disebutkan nama Raja Zulkarnain dan Raja Fir’aun atau Thalut dan Jalut? Sudah pasti hati kita akan senang dengan Raja Zulkarnain dan Tahlut yang adil lagi bijkasana. Sedangkan pada Raja Fir’aun dan Jalut akan muncul kebencian karena perilakunya yang zalim dan pongah.

Rasa cinta inilah yang muncul semata-mata karena kita mendengar kebaikan orang-orang tersebut, bukan karena kita pernah menerima kebaikan dari orang tersebut. Sesungguhnya ini akan mengantarkan cinta kita kepada-nya karena Dialah yang menciptakannya. Kita mencintai-Nya atas semua nikmat dan karunia yang tak terhingga. Nikmat kehidupan dan kesempurnaan jasmani dan ruhani. Kita mencintai-nya atas kasih sayang-Nya yang telah menghadirkan keluarga, saudara, kerabat, teman dan tetangga yang baik dan penuh cinta kepada kita. Kita mencintai-Nya atas kesempurnaan-Nya yang telah menganugerahkan ilmu, hikmah dan pengajaran untuk kita. Kita mencintai-Nya atas semua kebaikan-Nya. Dan kita mencintai-Nya atas segala yang ada pada-Nya.

Allah adalah muara semua cinta. Hanya Dialah yang berhak atas cinta yang sempurna. Dan tak ada yang mampu menandingi kesempurnaan cinta-Nya.

 

Penulis : Ratih Nuraini Lathifah, ST

Referensi :

Tarbiyah Cinta- Imam Al Ghazali- oleh Yon Machmudi dan Soraya Dimyati , Qultum Media, 2014