Bagaimana Cara Menggerakkan Jari yang Benar Saat Tasyahud?

Pertanyaan:

Assalamu ‘Alaikum, Wr Wb.

Saya sering melihat orang-orang tasyahhudnya berbeda di sisi mengacungkan jari ke depan :

Ada yang dikibaskan
Ada yang biasa
Ada yang menunggu sampai bacaan tertentu

Saya sering juga melihat orang-orang takbir berbeda

Ada yang dengan slowmotion/gerak lambat (nggak bohong!)
Ada yang dengan dikekirikan/kanan
Ada yang biasa…

Yang mana yang benar. Tolong pencerahannya.

Jazakumullah (dari Ghotic Muslim)

Jawaban:

Wa ‘alaikum Salam Wr Wb. Bismillahirrahmanirrahim.

Apa yang Anda lihat, bahwa ada yang mengkibaskan (menggerak-gerakkan), atau yang biasa saja, atau ada yang menggerakkan pada bacaan tertentu, adalah khilafiyah yang memang benar-benar ada. Maka Anda tidak usah heran, sebab itu terjadi lantaran perbedaan mereka dalam menafsirkan hadits-hadits nabi tentang hal ini.

Dari Wail Bin Hujr Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

Bahwa rasulullah meletakkan tangannya yang kiri di atas pahanya dan lututnya yang kiri, dan meletakkan siku kanan di atas paha kanannya, kemudian dia menggenggam jari jemarinya dan membentuk lingkaran. Lalu dia mengangkat jarinya (telunjuk) dan aku melihat dia menggerak-gerakkannya, sambil membaca doa.”[1]

Syaikh Al-Albani mengomentari hadits ini:

أولا : مكان المرفق على الفخذ. ثانيا : قبض إصبعيه والتحليق بالوسطى والإبهام .ثالثا : رفع السبابة وتحريكها .رابعا : الاستمرار بالتحريك إلى آخر الدعاء

Pertama. Tempat siku adalah di paha. Kedua. Menggenggam jari jemari dan membentuk lingkaran antara jari tengah dan jempol. Ketiga. Mengangkat jari telunjuk. Keempat. Terus-menerus menggerakkannya sampai akhir do’a.[2]

Sangat berbeda dengan Syaikh Al Albany, Imam Al Baihaqi mengomentari demikian:

يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الاشارة بها. لا تكرير تحريكها، ليكون موافقا لرواية ابن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بإصبعه إذا دعا لا يحركها. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

“Mungkin yang dimaksud dengan menggerakkan itu adalah memberikan isyarat menunjuk, bukan menggerak-gerakkan secara berulang-ulang, agar hadits ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Zubeir, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan jarinya jika dia berdoa tanpa menggerak-gerakkannya.” Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih. [3]

Lalu Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan:

واما الحديث المروى عن ابن عمر عن النبي صلي الله عليه وسلم ” تحريك الاصبع في الصلاة مذعرة للشيطان ” فليس بصحيح قال البيهقى تفرد به الواقدي وهو ضعيف

“Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Menggerakan jari dalam shalat adalah hal yang ditakuti syetan,’ tidaklah shahih. Berkata Al Baihaqi: Al Waqidi meriwayatkannya sendiri, dan dia dha’if.” [4]

Namun Syaikh Al Albany menyanggah pendapat ini karena hadits dari Ibnu Zubeir yang katanya shahih menurut Imam al Baihaqi, ternyata ghairu shahih (tidak shahih) menurut hasil penelitiannya.[5]

Beliau juga memperkuat dengan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لهي أشد على الشيطان من الحديد

“Gerakan telunjuk itu benar-benar lebih ditakuti syetan dibanding besi.” [6]

Beliau mengatakan bahwa para sahabat nabi melakukan itu, yakni menggerakan jari sebagai isyarat ketika doa, karena mereka menyontoh terhadap sesama sahabat lainnya. Sebagaiana yang dikatakan Ibnu Abi Syaibah secara hasan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukannya pula pada semua duduk tasyahudnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al Baihaqi dengan sanad shahih. [7]

Sementara Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

وقد سئل ابن عباس عن الرجل يدعو يشير بإصبعه؟ فقال: هو الاخلاص. وقال أنس بن مالك: ذلك التضرع، وقال مجاهد: مقمعة للشيطان. ورأى الشافعية أن يشير بالاصبع مرة واحدة عند قوله (إلا الله) من الشهادة، وعند الحنفية يرفع سبابته عند النفي ويضعها عند الاثبات، وعند المالكية، يحركها يمينا وشمالا إلى أن يفرغ من الصلاة، ومذهب الحنابلة يشير بإصبعه كلما ذكر اسم الجلالة، إشارة إلى التوحيد، لا يحركها.

“Ibnu Abbas ditanya tentang seorang yang memberikan isyarat dengan telunjuknya. Beliau menjawab: ‘Itu menunjukkan ikhlas.’ Anas bin Malik berkata: ‘Itu menunjukkan ketundukan.’ Mujahid berkata: ‘Untuk memadamkan syetan.’ Sedangkan golongan syafi’iyah memberikan isyarat dengan jari hanya sekali yakni pada ucapan Illallah (kecuali Allah) dari kalimat syahadat. Sedangkan menurut golongan hanafiyah, mengangkat jari telunjuk ketika ucapan pengingkaran (laa ilaha/tiada Tuhan) lalu meletakkan lagi ketika ucapan penetapan (Illallah/ kecuali Allah). Sedangka menurut Malikiyah menggerak-gerakan ke kanan dan ke kiri hingga shalat selesai. Sedankan madzhab Hanabilah (hambali) memberikan isyarat dengan jari telunjuk ketika disebut lafzul jalalah (nama Allah) sebagai symbol tauhid, tanpa menggerak-gerakkannya.” [8]

Tata Cara Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram

Tidak dibenarkan slowmotion (terlalu lama) atau terlalu cepat, dan di main-mainkan ke kanan ke kiri. Hendaknya kita melakukan secara wajar mengikuti sunah nabi. Di angkat sejajar bahu atau hampir sejajar bahu, bersamaan dengan takbir atau sebelum membaca takbirtul ihram.

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany Rahimahullah:

( البخاري وأبو داود وابن خزيمة ) و ( كان يرفع يديه تارة مع التكبير وتارة بعد التكبير وتارة قبله )

( أبو داود وابن خزيمة ) كان يرفعهما ممدودة الأصابع [ لا يفرج بينها ولا يضمها ] )

( البخاري وأبو داود ) و ( كان يجعلهما حذو منكبيه وربما كان يرفعهما حتى يحاذي بهما [ فروع ] أذنيه )

“Rasulullah mengankat kedua tangannya, kadang bersamaan dengan takbir, kadangkala setelah takbir, dan kadang kala sebelum takbir. “ (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka (tidak merenggangkan dan tidak menggenggamnya) (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat tangannya hingga sampai sejajar kedua bahunya, dan terkadang sampai kedua telinganya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) [9]

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

والمختار الذي عليه الجماهير، أنه يرفع يديه حذو منكبيه، بحيث تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذكيه، وراحتاه منكبيه.

قال النووي: وبهذا جمع الشافعي بين روايات الاحاديث فاستحسن الناس ذلك منه.

ويستحب أن يمد أصابعه وقت الرفع.

فعن أبي هريرة قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه مدا. رواه الخمسة إلا ابن ماجة.

وقت الرفع: ينبغي أن يكون رفع اليدين مقارنا لتكبيرة الاحرام أو متقدما عليها.

فعن نافع: أن ابن عمر رضي الله عنهما كان إذا دخل في الصلاة كبر ورفع يديه، ورفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم.

رواه البخاري والنسائي وأبو داود.

وعنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يرفع يديه حين يكبر حتى يكونا حذو منكبيه أو قريبا من ذلك.

الحديث رواه أحمد وغيره.

وأما تقدم رفع اليدين على كبيرة الاحرام فقد جاء عن ابن عمر قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا بحذو

منكبيه ثم يكبر، رواه البخاري ومسلم.

وقد جاء في حديث مالك بن الحويرث بلفظ: (كبر ثم رفع يديه) رواه مسلم.

وهذا يقيه تقدم التكبيرة على رفع اليدين، ولكن الحافظ قال: لم أر من قال بتقديم التكبيرة على الرفع.

Riwayat yang dipilih oleh jumhur (mayoritas) adalah mengangkat tangan itu harus sejajar dengan kedua bahu sampai ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari dengan ujung bawahnya serta kedua telapak tangan dengan kedua bahunya.

An Nawawi mengatakan: “Dengan cara ini Asy-Syafi’i telah menghimpun beberapa riwayat hadits hingga ia mendapat pengakuan dari kalangan ulama.” Dan, disunnahkan merenggangkan jari jemari pada saat mengangkat tangan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

“Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak melakukan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa’i, dan At Tirmidzi kecuali Ibnu Majah)

Saat mengangkat kedua tangan. Hendaknya mengangkat kedua tangan itu bersamaan waktunya dengan mengucapkan takbiratul ihram atau mendahulukannya sebelum membaca takbiratul ihram. Nafi’ berkata:

“Jika Ibnu Umar hendak memulai shalat, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya. Hal ini dinyatakannya berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari An Nasa’i dan Abu Daud)

Dari Nafi’ juga: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbir hingga sejajar dengan kedua bahu atau hampir sejajar dengannya.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Adapun mendahulukan mengangkat kedua tangan sebelum takbiratul ihram, maka telah ada riwayat dari Ibnu Umar dia berkata: “Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri hendak mengerjakan shalat maka beliau mengangkat kedua belah tangannya sehingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau membaca takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan telah diterima hadits dari Malik bin Al Huwairits dengan lafaz: “Ia membaca takbir, lalu mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini membolehkan mendahulukan takbir daripada mengangkat tangan. Akan tetapi, Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Saya tidak pernah melihat adanya orang yang mengatakan bahwa didahulukannya takbir daripada mengangkat kedua tangan.”[10] Demikian. Wallahu A’lam. (dakwatuna.com/hdn)

[1] HR. An Nasa’i, Kitab Al Iftitah Bab Maudhi’ Al Yamin minasy Syimali fish Shalah, Juz. 3, Hal. 433 No hadits. 879. Ahmad, Juz.38, Hal. 331, No hadits. 18115.

[2] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany, Tamam Al Minnah, Juz. 1, Hal. 221

[3] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 170. Lihat juga Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454.

[4] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454-455. Darul Fikr.

[5] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tamamul Minnah, Juz. 1, Hal. 217.

[6] HR. Ahmad, Juz. 12, Hal. 265, No hadits. 5728, Lihat pula Tamamul Minnah, Juz. 1 Hal. 220. Dan Shifah ash Shalah an Nabi, Hal. 159.

[7] Ibid

[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 171. Lihat juga Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 455.

[9] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shifah Ash Shalah An Nabi, Hal. 86. Maktabah Al Ma’arif Linasyr wat Tauzi’.

[10] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 142-143.