Bayi Karim Tinggal di Bawah Tanah Menghindari Pengepungan Ghouta Timur

Dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap Rezim Bashar al Assad, “Bayi Karim” – yang kehilangan satu mata pada serangan udara rezim – berlindung di bawah tanah untuk bertahan hidup.

Warga sipil terpaksa berlindung di bawah tanah karena serangan udara yang dilakukan oleh rezim Bashar al-Assad dan pendukungnya di daerah pinggiran Ghouta, Suriah yang dijajah.

Sejak Anadolu Agency pertama kali melaporkan ceritanya, ribuan orang telah menyatakan dukungannya untuk anak tersebut melalui kampanye media sosial online.

“Saya membawa Karim dan saudara-saudaranya ke tempat penampungan bawah tanah (shelter). Karim telah tinggal di tempat penampungan (shelter) selama delapan hari bersama saudara-saudaranya. Banyak orang berada di tempat penampungan bawah tanah (shelter) ini. Tidak ada yang meninggalkan mereka karena serangannya belum dihentikan,” ungkap ayah bayi itu, Ebu Muhammad, dikutip dari Anadolu Agency.

Dia mengatakan tidak ada makanan, cahaya, listrik dan panas di tempat penampungan dimana anak-anak tinggal dan pesawat terus-menerus melayang-layang di atas.

Menurut kelompok pertahanan sipil Suriah, White Helmet, jumlah korban telah melampaui 400 dalam seminggu terakhir karena serangan sengit Rezim Assad.

Dalam dua minggu terakhir, rezim tersebut telah menargetkan 22 pusat kesehatan, sebuah masjid dan sebuah panti asuhan di Ghouta Timur.

Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi yang disahkan oleh Turki, Rusia dan Iran dimana tindakan agresi dilarang.

Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut gencatan senjata 30 hari untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Resolusi tersebut, yang disiapkan oleh Swedia dan Kuwait, juga menyerukan evakuasi medis 700 orang, terutama di Ghouta Timur, yang telah dikepung selama lima tahun terakhir, mencegah pengiriman makanan dan obat-obatan dan membiarkan ribuan pasien yang membutuhkan pengobatan.

Suriah telah terkunci dalam perang sipil yang menghancurkan sejak awal 2011 ketika rezim tersebut menindak demonstran dengan keganasan yang tak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik tersebut.*/Sirajuddin Muslim (www.hidayatullah.com)