Hanya Allah yang Dapat Meredam Setiap Kegelisahan

Dalam kehidupan ini pasti ada orang-orang yang kita cintai. Kita akan berupaya menuntut mereka ke jalan kebaikan. Kenyataannya, ada di antara mereka yang tetap kukuh pada pendirian untuk lebih memilih menuruti hawa nafsu yang menjerumuskan ke dalam maksiat, yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam azab-Nya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari hal ini.

Akibat penolakan itu Anda bisa merasa putus asa dan bersedih atas mereka. Hati Anda hancur karena berduka cita tapi tidak punya daya apa-apa.

Seperti itulah Nabi kita memiliki penuh kasih. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam menyuruh kaumnya untuk menuju kepada Allah, surga, dan nikmat-Nya, dengan segala cara, seraya menanggung beban berat yang hanya bisa dipikul oleh para rasul bergelar Ulu’ al-‘azm. Namun, orang-orang kafir menyumbat telinga mereka dengan jari dan terus tenggelam dalam kesesatan, kekufuran, dan kebencian di hati mereka.

Mereka berpaling membelakangi, membangkang, dan menukar surga dengan neraka atas pilihan sendiri. Itulah penyebab utama kegelisahan dan kesedihan di hati Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menyaksikan sejumlah keluarganya jatuh ke lembah kesesatan. Beliau berdukacita karena tahu tempat mereka saat kembali nanti. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan keadaan Nabi ini dalam firman-Nya:

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (QS. al-Khaf: 6 ).

Kesedihan dan kegalauan Nabi telah sampai pada tingkat yang hampir saja beliau bunuh diri karena kalut. Oleh karena itu, Allah mengarahkannya bahwa bersedih karena persoalan ini tidak akan berguna dan tertolak. Tugas beliau sudah selesai dan tidak akan dituntut karena kondisi seperti itu.

Terkadang orang yang Anda seru kepada kebaikan tidak merasa cukup dengan hanya meninggalkan dan tidak mendengarkan Anda. Lebih dari itu, mereka juga menghina, meremehkan pemikiran, dan mencemooh cara-cara Anda. Semua itu membuat Anda semakin sedih dan gelisah. Allah mengingatkan:

Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. al-An’am : 33).

Dalam riwayat lain kita bisa membaca kesedihan yang dialami Nabi Ya’qub a.s. Riwayat tentang Nabi Ya’qub a.s merupakan kisah terbaik dari seorang ayah. Dengan membaca ayat-ayat dalam surah Yusuf, kita dapat membayangkan ikatan keluarga yang tidak bisa diputuskan oleh zaman; antara seorang bapak, Ya’qub a.s., dan dua putranya, Yusuf a.s. dan Bunyamin a.s.

Pada awal persentuhannya dengan musibah, Nabi Ya’qub a.s. diuji dengan kehilangan bocah kecil penyenang hatinya, Yusuf a.s, dalam sebuah kejadian mendadak menurut cerita bohong yang disampaikan kepadanya. Padahal sebenarnya Yusuf a.s. dibawa dan dihilangkan oleh saudara-saudaranya.

Ini kisah sedih yang sangat panjang. Dimulai dengan perasaan Ya’qub a.s. yang tidak bisa dibohongi tatkala saudara-saudara Yusuf a.s. meminta untuk membawa serta Yusuf a.s. Episode ini diabadikan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Ya’qub berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya.” (QS. Yusuf: 13).

Kekhawatiran Ya’qub a.s. menjadi kenyataan. Dia kehilangan Yusuf dan baru dapat bertemu kembali setelah berpuluh-puluh tahun. Kesedihan Ya’qub a.s memenuhi relung kalbunya, merengut kegembiraannya, hingga patah hati.

Tahun berganti tahun. Dalam rentang waktu itu, kesedihan menggerogoti badan Ya’qub a.s. dan menguras air matanya hingga dia kehilangan penglihatan.

Tentang masa perpisahan Ya’qub a.s. dengan Yusuf, al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Sejak Yusuf a.s. menghilang dari hadapan Ya’qub a.s. hingga bertemu kembali adalah delapan puluh tahun. Kesedihan tidak pernah meninggalkan hati Ya’qub a.s. Dia senantiasa menangis hingga penglihatannya menghilang.”

Kemudian tradisi Allah dalam menguji para nabi, yaitu menggenapkan berbagai musibah kepada hamba-Nya guna memberikan solusi setelahnya. Begitulah, Ya’qub a.s. yang telah bersedih, kembali ditimpa masalah baru yang menambah kesedihannya. Nabi Ya’qub a.s pun kemudian mengutarakan kekurangberupayaannya dan kelemahan tekadnya untuk bersabar, bila tidak mendapat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ya’qub berkata, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 86).

Allah pun menjanjikan suatu ketetapan kepada kita dan kepada para nabi-Nya yang sabar dan saleh bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan. Setelah kesempitan pasti ada kelapangan dan kemudahan. Berdasarkan ketetapan itu pula Allah menutup penderitaan Ya’qub a.s. dengan akhir yang bahagia.

Penglihatan Ya’qub a.s. dikembalikan, kedua anaknya juga dipulangkan setelah lama menghilang. Dia diberi kesenangan berkumpul bersama anak-anaknya di sisa umurnya.

Disarikan dari buku: Seni Bergembira Cara Nabi Meredam Gelisah Hati. Penulis: Karim Abdul Ghaffar.

(Sudirman STAIL/hidayatullah.com)