Manusia-Manusia Fitri

Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria turut memberikan khotbah setelah melakukan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1439 H di Bogor, Jumat (15/6). Ia menyampaikan, semoga segala amal ibadah yang telah dilakukan umat menjadikan orang yang bertakwa.

“Hari ini kita hadir di sini untuk bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh rahmat, berkah dan maghfiroh ini. Semoga pendidikan Ramadan ini telah melahirkan kita menjadi manusia baru, manusia manusia fitri, manusia yang sudah kembali kepada fithrah, dengan karakter yang baru sebagai muttaqiin,” ujar Arif Satria, dalam keterangannya, Jumat (15/6).

Ia melanjutkan, muttaqiin (manusia yang jujur dalam imannya),  orientasi hidupnya semata-mata untuk meraih ridha Allah. Pada hari ini jamaah hadir di sini, bersimpuh bersama di hadapan Allah subhanallah wa ta’ala, sebagai alumni sekolah Ramadan, dan siap dengan penuh kesadaran dan kemantapan hati.

“Kita adalah manusia-manusia fitri yang telah mengosongkan pikirannya dari kebodohan, kepicikan, dan mengisinya dengan orientasi jalan hidup dan ilmu yang benar, yang telah mengosongkan hatinya dari keangkuhan, kemunafikan, riya, dengki dan dendam lalu menggantinya dengan kerendahan hati, kejujuran, cinta dan kasih sayang demi memikul amanah menyebarkan kebaikan, keselamatan,” ungkap Arif.

Arif mengatakan, di Hari yang fitri ini sebaiknya umat merenungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa ada tiga sifat yang menjadi ciri kebesaran umatnya. Pertama, hubungan tali persaudaraan dengan setiap orang termasuk orang yang membenci dirimu.

Kedua, tolonglah orang lain termasuk orang yang tidak pernah menolong kamu. Ketiga, maafkan orang lain walaupun kamu teraniaya dan terzalimi olehnya. Islam tidak pernah mengenal dendam. Dendam adalah musuh iman. Jika kalian beriman, kalian tidak mungkin dendam dan jika kalian dendam kalian tidak beriman.

Pendidikan Ramadhan merupakan media bagi manusia untuk benar-benar menjadi umat terbaik. Hal ini karena pendidikan Ramadhan telah mengajarkan kepada orang sejumlah karakter mulia, diantaranya Kejujuran, Ramadhan makin melatih pentingnya kejujuran dan selalu berkata yang benar.

Lalu kedisiplinan, siklus ritual di bulan Ramadhan melatih umat untuk senantiasa berada dalam keteraturan, dan keteraturan tersebut harus kita jaga dengan karakter disiplin baik disiplin waktu maupun disiplin pada tata aturan. Kemudian kepedulian, selama bulan Ramadhan, manusia dilatih untuk memperkuat daya empati dengan selalu berbagi melalui mekanisme zakat, infaq dan sedekah.

 

Sumber : Republika.co.id