Menjadi Manusia Merdeka

iSLAM-ITU-INDAH“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An-Nahl [16]: 36)

 Setiap 17 Agustus kita merayakan peringatan kemerdekaan Indonesia. Jika kemerdekaan dimaknai merdeka dari penjajah, bangsa ini memang telah merdeka. Namun, dalam perspektif Islam, benarkah bangsa ini merdeka? Lalu apa hakikat kemerdekaan menurut Islam? Ayat di atas menyinggung hal ini secara gamblang.

Ayat 16 surat An-Nahl menjelaskan, Allah swt mengutus pada setiap umat seorang rasul, sejak zaman Nabi Nuh as sampai Nabi Muhammad saw, untuk menjalankan misi suci. Yaitu, memerdekakan semua umat manusia dari penyembahan kepada selain Allah menuju penyembahan kepada Allah semata.

Memahami misi Rasul di atas, jelaslah bahwa kemerdekaan dalam pandangan Islam bukan sekadar merdeka dari penjajah, melainkan ketika kita  menghamba kepada Allah swt semata. Makna ini dipertegas Rib’i bin Amir ketika diutus oleh panglima perang kaum Muslimin, Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dalam perang Qadisiyah. Di hadapan Rustum, panglima perang bangsa Persia, Rib’i bin Amir menyampaikan misi luhurnya, “Kami datang untuk memerdekakan manusia dari penyembahan dari sesama manusia menuju penyembahan kepada Rabb manusia, Allah swt. Untuk memerdekakan manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan untuk memerdekakan manusia dari kezhaliman beragam agama menuju keadilan Islam” (Al Bidaayah wa’n Nihaayah, Ibnu Katsir IV/43).

Al-Qur’an mendokumentasikan bahwa dalam sejarah peradaban umat manusia telah terjadi penyembahan kepada selain Allah. Di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan sebagaimana firman Allah dalam QS Fushshilat (41): 37. Atau yang menyembah malaikat seperti disinggung Allah dalam QS Ali Imran (3): 80. Ada pula yang menyembah para nabi, misalnya Nabi Isa as, sebagaimana tercatat dalam QS Al-Maaidah (5): 116. Pun mereka yang menyembah hawa nafsu (QS Al Furqaan [25]: 43, dan QS Al Jaatsiyah [45]: 23.

Manusia yang terjajah dan belum merdeka adalah mereka yang berada dalam kesesatan. Sedangkan manusia merdeka adalah yang mendapat hidayah (petunjuk) Allah, yang menghamba hanya kepada Allah semata. Begitulah, hidup adalah pilihan di antara dua hal: hidayah (petunjuk) atau dhalalah (kesesatan), Al Khair (kebaikan) atau Asy Syarr (keburukan), iman atau kufur, Al Haq (kebenaran) atau Al Baathil (kebatilan), takwa atau fujur. Lalu, di akhirat nanti manusia dihadapkan pada dua pilihan tempat; surga atau neraka. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan balasan masing-masing.

Maka, penting merenungkan keberakhiran manusia dan kaum terjajah, yang durhaka kepada para rasul, mendustakan kebenaran dan menentangnya, seperti kaum ‘Ad dan Tsamud, yang telah dibinasakan Allah swt disebabkan dosa-dosa mereka. Akhirnya, mari kita bina dan kondisikan diri kita, keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia-manusia merdeka yang hakiki agar bahagia di dunia dan akhirat dalam rengkuhan ridha Ilahi.

Sumber : http://ummi-online.com