Menyambut Seruan, Meraih Kebahagiaan di Bulan Ramadhan

Dalam hitungan hari, bulan Syaban akan berakhir, dan saatnya kita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. “Marhaban Ya Ramadhan”, ungkapan kegembiraan yang senantiasa kita lafazkan dalam menyambut datangnya bulan suci nan mulia, bulan penuh rahmat dan ampunan.

Agar kita semakin bersemangat dalam menyambut datangnya bulan mulia ini, maka segala persiapan mutlak dilakukan. Baik persiapan fisik, maal (harta) dan yang terpenting adalah persiapan ruhiyah. Peningkatan iman secara perlahan disiapkan sebelum kehadiran Ramadhan.  Karena kita menyadari bahwa segala amal ibadah yang dilakukan di bulan ini, pasti diganjar pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT, dengan syarat semua dilakukan ikhlas karena Allah dan ittiba’ Rasul SAW. Kondisi lapar dan dahaga ketika berpuasa, lelah ketika melaksanakan sholat fardhu dan sunnah, maupun zakat dan sedekah kita semua in syaa Allah tak akan sia-sia di hadapanNya.

Bagaimana agar kita bisa berbahagia menyambut seruan Allah di bulan Ramadhan, terlebih dahulu kita pahami makna firman Allah yang terdapat dalam Al Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. “ (QS. Al Baqarah : 183)

Allah SWT memanggil pada permulaan ayat di atas : “Wahai orang-orang yang beriman”. Ini bukan sembarang panggilan, sebab yang memanggil adalah Allah SWT, Tuhan Pencipta alam semesta yang semua makhluk bergantung padaNya.  Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kekuasaanNya. Itu sebabnya, orang yang mengaku sebagai hambaNya, hendaknya segera bergegas memenuhi panggilan ini.

Bila kita pahami pada ayat tersebut, Allah SWT tidak menyebutkan kriteria duniawi, tak ada panggilan yang dikhususkan bagi orang kaya saja, atau orang berwajah cantik saja, atau orang berkedudukan tinggi saja, dan sebagainya. Yang pasti Allah SWT panggil adalah mereka yang beriman. Di balik panggilan ini tersimpan rahasia, diantaranya :

Pertama,  Bahwa keimanan seseorang mempunyai posisi  tersendiri di hadapan Allah SWT, yaitu Allah SWT sangat bangga kepada hambaNya yang beriman.  Dalam Al Qur’an undangan “yaa ayyuhalladziina aamaanuu” selalu Allah SWT ulang, ini pertanda bahwa yang Allah SWT anggap sebagai hamba-Nya hanya mereka yang beriman, yang tidak beriman tidak termasuk sebagai hamba-Nya

Kedua, Bahwa posisi keduniawian, seberapapun megahnya, bila tidak disertai iman,maka Allah SWT tidak akan bangga dengannya. Bahkan Allah SWT sangat benci kepada seseorang yang setelah diberi kenikmatan dunia, tapi malah berbuat maksiat kepada-Nya. Sebagaimana  firman Allah SWT :

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberi kesenangan, dia berkata : Tuhanku telah memuliakanku. Tapi bila Tuhannya menguji lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata : Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr : 15-16)

Ketiga, Bahwa untuk melaksanakan ibadah puasa, syaratnya harus beriman terlebih dahulu.  Tanpa keimanan, puasa seseorang tiadak akan diterima Allah SWT. Karenanya dalam banyak hadits Rasulullah SAW selalu menyebutkan kata imanan wahtisaban, untuk menunjukkan bahwa ibadah yang Allah SWT terima adalah ibadah berdasarkan imanan dan pengharapan atas ridha Allah SWT. .

Rasulullah SAW bersabda,

Orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridha- Nya, Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lewat. “ (HR. Bukhari Muslim)

Lalu bagaimana korelasi antara puasa dengan keimanan?

Pertama,  Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, seharusnya ia sadar bahwa Allah SWT senantiasa bersamanya.  Karenanya, seluruh kegiatan sehari-hari selalu dalam rangka mentaati-Nya. Bagi orang  yang merasa selalu bersama Allah, akan menjauhi perbuatan maksiat. Kesadaran ini membuatnya sangat berhati-hati dalam bersikap. Sedangkan puasa adalah ibadah menahan diri dari yang halal. Sehingga tampak betapa hakikat puasa adalah sebagai perisai supaya pelakunya terhindar dari yang haram.  Dari sini bisa kita perhatikan bahwa betapa untuk menegakkan puasa, seseorang harus mempunyai iman. Hanya dengan iman yang jujur, seseorang akan benar-benar merasakan kebahagiaan berpuasa.

Kedua, Ketika sedang berpuasa, pada hakikatnya seseorang sedang berjuang menutup semua pintu masuk yang digunakan setan untuk menggodanya. Betapa puasa mencerminkan hakikat perlawanan yang dahsyat seorang hamba Allah SWT terhadap setan. Untuk memenagkan pertarungan melawan setan ini dibutuhkan iman yang kokoh dan jujur. Sebab jika imannya lemah, ia tidak akan bisa istiqomah berpuasa.

Ketiga, Puasa sebagai salah satu pilar ajaran Islam yang hanya sanggup ditegakkan oleh orang beriman dengan kualitas keimanan yang jujur dan bersungguh-sungguh.

Pada lanjutan ayat ini,

Seperti telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian..” (QS. Al Baqarah :183)

Ayat ini menggambarkan bahwa semua manusia sepanjang sejarah diwajibkan berpuasa. Dalam puasa ada ikhtiar mengendalikan nafsu. Suatu pelajaran bahwa hakikat manusia harus berjuang mengendalikan nafsunya. Semakin seseorang berhasil mengendalikan nafsunya, semakin mumpuni fitrah kemanusiaannya. Semakin bisa mengendalikan nafsu, maka seseorang akan semakin terhindar dari setan yang berarti semakin dekat dengan fitrah kemanusiaannya.  Kaum-kaum terdahulu diwajibkan berpuasa dengan kapasitas yang berbeda-beda.

Dan ayat ini ditutup dengan tujuan diperintahkannya ibadah Ramadhan,

“.. agar kamu bertakwa” ( QS. Al Baqarah : 183)

Bila kita pahami, rangkaian ibadah Ramadhan secara lengkap yang Allah SWt tuntunkan ini jelaslah bahwa semua itu tidak lain adalah dalam rangka mendidik hamba-hamba-Nya agar naik ke level takwa.  Sebab hanya dengan bertakwa kepada Allah SWT, kebahagiaan di dunia maupun di akhirat akan dicapai. Dan untuk mencapainya, perlu rumusan do’a yang mengiringi amal. (Penulis : Ratih Nur’aini Lathifah, ST)

Referensi :

Tafsir Ayat- Ayat Ramadhan, Dr. Amir Faishal Fath, Fath Institute