Perjalanan Terindah

 

Sesungguhnya meski dianugerahi ketinggian jiwa yang tidak dimiliki oleh manusia lain, Rasulullah saw yang telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi berbagai penganiayaan dan penyiksaan di jalan Allah, beliau tetap memiliki perasaan sebagai manusia. Fitrahnya sama dengan manusia pada umumnya yang merasa sakit bila tertimpa kesengsaraan dan merasa bahagia bila mendapatkan kesenangan. Betapa banyak peristiwa duka dan menyakitkan yang datang bertubi-tubi kepada Rasulullah SAW ketika itu.

Setelah masa pemboikotan selama kurang lebih 3 tahun oleh kaum kafir Quraisy, beliau mengalami duka yang mendalam atas wafatnya istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid r.a. Tak berapa lama paman yang selama ini mendukung perjuangan da’wah beliau pun wafat. Kondisi demikian yang dijadikan oleh kaum Quraisy untuk semakin melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah saw. Hingga kala itu, Fatimah binti Muhammad yang menggantikan peran ibunya, menangis saat membersihkan kotoran yang dilempar oleh kaum kafir kepada ayahnya.

Namun Rasulullah saw betapapun sedihnya kala itu, masih mampu berkata kepada putrinya dengan penuh keyakinan, “ Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.”

Kesedihan itu rupanya belum berakhir saat Rasulullah SAW mencoba membuka jalur dakwah baru di Thaif. Harapan yang membumbung seiring dengan hawa sejuk dan segar Thaif tak sebanding dengan kenyataan kala penduduk Thaif belum menerima da’wah Rasulullah saw dengan hati yang terbuka. Bahkan penyiksaan semakin menjadi dengan cercaan dan pelemparan batu yang mengakibatkan cidera pada kedua kaki Rasulullah SAW.

Perasaan tidak berdaya sebagai manusia dan betapa perlunya kepada pembelaan terungkap dalam do’a-do’a Rasulullah SAW di kebun Rabi’ah yang terletak di Tha’if. Suatu do’a yang menggambarkan ‘ubudiyah kepada Allah sebagai pembela sejati.  Kemudian datanglah mukjizat Allah di tengah kesedihan yang melanda diri Rasulullah SAW. Mukjizat yang berupa penghiburan itu bukanlah semata-mata sama seperti penghiburan yang banyak dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sebab ini adalah perjalanan ruhiyah terindah yang tak akan pernah dilupakan oleh barisan manusia sepanjang zaman. Pertemuan teragung antara seorang Nabi dengan sesama Nabi dan seorang hamba dengan Penciptanya. Ketika itu Nabi saw diperjalankan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan dilanjutkan dengan perjalanan ke langit yang tertinggi (Mi’raj) Saat itu Masjidil Aqsha dipenuhi oleh manusia-manusia termulia, para Nabi dan Rasul sejak zaman Nabi Adam a.s hingga Nabi Isa a.s. Mereka menunggu kedatangan Nabi Muhammad saw untuk mengimami shalat.

Perjalanan yang menguatkan ruhiyah dan jauh dari hingar bingar kehidupan duniawi yang melenakan. Inilah penghiburan yang sesungguhnya bagi seorang Rasul, yang semakin menguatkan jiwa dan membawa perubahan besar dalam diri beliau. Shalat yang dilaksanakan Nabi saw bersama para Nabi tersebut merupakan tanda perpindahan risalah kepada umat ini dan serah terima kepemimpinan umat manusia yang berlangsung di tempat yang diberkahi, Masjidil Aqsha.

Ini juga pertanda bagi kita umat nabi Muhammad, bahwa kita adalah penanggung jawab Kitabullah atau risalah yang diturunkan oleh Allah SWT setelah Nabi Muhammad tiada. Risalah itu telah berpindah dari satu Nabi ke Nabi lain.

Peristiwa Isra’ adalah cermin perpindahan kitab kepada umat Nabi Muhammad saw. Seolah-olah peristiwa ini memberikan pesan kepada kita agar bertanggung jawab terhadap kitab Al Qur’an, oleh karena itu kita harus menyadari nilainya dan jangan sekali-kali menelantarkannya sebagaimana kelakuan umat-umat sebelum kita. Jika kita menelantarkannya, Allah SWT akan mengganti kita sebagaimana Dia telah mengganti mereka.

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al Israa :1)

Peristiwa Isra’ Mi’raj juga mengajarkan kepada kita jika sedih dan dirundung masalah maka tempat kembali hanyalah Allah. Sebab hanya Allah Pecinta dan Pembela sejati kita.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah: 45-46)

Sumber :

  • Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthy, Rabbani Press
  • Khowatir Qur’aniyah, Amru Khalid, Al Itishom