Persiapan Menyambut Ramadhan

“Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (HR. Ahmad & At-Tabrani)

Saudaraku seiman yang saya cinta karena Allah SWT, tidak terasa bulan suci, bulan magfirah, bulan penuh rahmat, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr yang dinanti-nati sudah dihadapan mata. Hanya hitungan hari menuju bulan mulia itu. Karena kemuliaan dan spesialnya bulan tersebut maka sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam mempersiapkan diri dan keluarga.

Persiapan disini kami maksud bukan hanya menunggu datangnya bulan Ramadhan. Tetapi persiapan disini adalah mempersiapkan bekal untuk bekal di bulan Ramadhan. Tujuan mempersiapkan bekal ini bermaksud untuk mengoptimalkan ibadah kita pada bulan yang didalamnya terdapat malam lebih dari 1000 bulan. Apa saja persiapan yang harus kita lakukan sebelum memasuki Universitas kehidupan bernama Ramadhan ini :

Pertama, Bekal iman
Iman adalah energi yg besar. Sehingga sekalipun berpuasa dlm cuaca yang sangat panas seseorang dapat menahan dirinya. Iman itu naik dan turun. Iman akan bertambah saat kita memperbanyak ibadah kepada Allah. Iman akan turun manakala kita banyak maksiat kepada Allah.

Orang sadar maupun yang tersadarkan memahami bahwa mempersiapkan keimanan itu bukan hanya pada bulan Sya’ban ini saja. Tetapi dipersiapkan disetiap hari, namun pada momentum ini diharapkan untuk meningkatkan persiapannya. Bulan Sya’ban ini juga bisa dikatakan sebagai bulan batu loncatan untuk optimalisasi ibadah di bulan Ramadhan nanti.

Kedua, Bekal Ilmu
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan yang benar tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Karena amal yang diterima itu adalah amal yang ikhlas dan benar sesuai syariat. Sehingga harus kita ketahui ilmunya.

Ketiga, Karakter menahan diri
Karakter menahan diri harus dimiliki seorang muslim. Karakter ini jangan hanya saat Ramadhan saja dapat menahan diri dari segala yg dilarang Allah, namun karakter ini juga harus dimiliki saat di luar bulan Ramadhan.

Dalam berbagai literatur apapun pengertian tentang puasa adalah al-imsak menahan. Ismail Raji Alfaruqi menyebut puasa sebagai media yang paling tepat untuk menahan diri. Kata kunci puasa sejak diwajibkannya terhadap umat terdahulu sampai sekarang adalah menahan diri dari segala perangai buruk yang merupakan karakter binatang.  Oleh karena itu puasa Ramadhan sebagai bulan yang begitu khusus diberikan oleh Allah SWT dalam menyediakan waktu dan metode pembentukan karakter manusia. Karakter manusia yang diharapkan lahir dari madrasah Ramadhan adalah manusia yang bertaqwa (QS.2:183).

Keempat, Mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu
Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat agung, ibadah yang penuh dengan berbagai kesan dan pesan serta memiliki banyak hikmah yang dapat dikenang oleh seorang muslim saat melakukannya. Maka tidak diragukan lagi kenapa Allah mensyari’atkan puasa kepada umat-umat sebelum kita. Karena puasa memiliki keutamaan yang begitu banyak dan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam memperbaiki kwalitas ketaqwaan seseorang.

Puasa juga diwajibkan bagi umat yang terdahulu, tidak hanya diwajibkan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Hanya orang yang beriman mampu memikul beban kewajiban tersebut.

Kelima, Fokus pada tujuan
Tujuan dari berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa. Seluruh kegiatan Ramadhan adalah berorientasi pada taqwa.

Banyak sekali ayat Al Qur’an maupun hadits-hadits nabi yang mewajibkan kita untuk semata-mata beribadah kepada Allah. Akan tetapi ibadah puasa memiliki kekhususan tersendiri dalam menanamkan nilai ikhlas tersebut dalam diri kita. Maka oleh sebab itu Allah menyediakan balasan secara khusus pula terhadap ibadah puasa.

( قال الله كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به) متفق عليه.

Segala amalan anak adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang membalasnya”.

Sesungguhnya Ibadah puasa amat sulit bila dilakukan tanpa motifasi ikhlas. Karena ibadah puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Amat jarang kita temukan orang berpuasa untuk berhala, atau sebagai persembahan kepada tuhan-tuhan selain Allah SWT. Demikian pula amat sedikit orang yang berpuasa dengan tujuan riya’. Karena ibadah puasa tidak dapat diketahui atau dilihat oleh orang banyak dengan kasat mata melalui kondisi fisik seseorang, kecuali bila seseorang memberitahukan kepada orang lain bahwa ia sedang berpuasa.

Keenam, Bersungguh sungguh dengan penuh ketelitian untuk mendapatkan lailatul qadar.
Lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga.Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.

Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Alangkah indahnya apabila kita mendapatkan barakah lailatul qadar, dan ini harus dipersiapkan. Terutama di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Dirangkum dari berbagai sumber.