Saatnya Berbagi dengan Hati

Betapa hati kita akan luluh saat menyaksikan potret keluarga yang menjalani garis kehidupan penuh perjuangan, berada pada sebuah taraf ekonomi yang minim. Kenyataan ini telah membuka mata kita bahwa di ibukota Indonesia yang megah dan penuh gemerlap  perhiasan dunia masih ada kantong-kantong yang membutuhkan bantuan.

Salah satunya adalah keluarga Bu Nursiah yang tinggal di RT 15/03 Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa. Tempat tinggalnya berada pada kategori kurang layak huni, karena tinggal di gang yang sempit, tanpa dapur, tanpa kamar mandi yang layak, dan lantai tanah. Bahkan dinding rumah yang masih dibuat dengan struktur semi permanen juga sebagian atap roboh karena struktur bangunan yang ala kadarnya.

Baca juga

Bu Nursiah & Potret Gerakan Kemanusiaan

Bagi kita yang memiliki kecukupan ekonomi atau bahkan keluasan materi, memandang kesempatan ini sebagai sebuah peluang yang sangat menjanjikan pahala dari Allah. Kisah-kisah sahabat terdahulu telah mengajarkan kita makna kedermawanan dan kaikhlasan dalam beramal. Kisah yang tak hentinya membuat kita takjub adalah tentang sahabat Abu Bakar r.a. Tidak ada seorangpun yang menandinginya dalam menginfakkan harta di jalan Allah. Setiap kesempatan, beliau sering membawa seluruh hartanya untuk dipergunakan berjuang di jalan Allah. Ketika masuk Islam, beliau memiliki uang 40 ribu dinar, dan seluruhnya diinfakkan kepada Rasulullah saw. Kedermawanannya tak sia-sia, menurut para ahli tafsir yang digambarkan dalam Q.S Al Lail : 17-18 adalah sahabat Abu Bakar r.a.

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.”  (QS. Al Lail : 18)

Besarnya pengorbanan Abu Bakar ini tak lepas dari dukungan sang istri, Ummu ruman binti Amir. Ummu Ruman adalah istri yang baik dan penuh dengan amanah. Dia sepenuhnya membantu suaminya dan taat kepadanya. Dia juga berkorban dengan hartanya untuk membantu suaminya dalam berjuang di jalan Allah SWT.

Demikianlah jejak sejarah yang patut kita teladani. Keberadaan masyarakat dhuafa merupakan sebuah kebutuhan bagi kita untuk membersihkan harta titipan dari Allah.

Dikisahkan, suatu hari seorang laki-laki menghadap khalifah dengan membawa kantong, pakaiannya lusuh seperti tidak terurus, pemandangan itu menarik perhatian sang Khalifah.

Khalifah menanyakan keinginannya. Ia menjawab :

“Ketika aku melihat kebanyakan orang datang kelautanmu yang luas, maka aku datang hanya membawa kantong.”

Khalifah merasa kagum terhadap kecepatan fikirannya dan ketepatan jawabannya. Khalifah berkata kepada pegawainya , “Isilah kantongnya dengan emas.”

Maka pegawai itu segera mengisi kantongnya dengan emas. Setelah itu, laki-laki pemilik kantong itu menerimanya. Sebagian mereka yang melihatnya merasa iri. Mereka mengatakan bahwa dirinya seorang yang dungu, tidak mengerti nilai harta, bahkan mungkin saja akan menggunakannya tidak pada tempatnya.

Tapi sang Khalifah berkata, “ Harta itu telah menjadi miliknya. Orang sepertiku memberi dan tidak akan meminta kembali pemberiannya. “

Laki-laki yang membawa kantong itu kemudian pergi ke tempat tinggalnya. Di sana ia membagi-bagikan emas itu kepada fakir miskin hingga emas yang ada padanya habis. Khalifah mengetahui perbuatannya itu, maka Khalifah mengirim seseorang untuk menanyakan sebab ia melakukan itu. Ia menjawab, “ Orang-orang baik itu dermawan kepada kami, kami juga dermawan dengan harta orang-orang baik. “

Khalifah pun kagum terhadap jawabannya, maka Khalifah memerintahkan agar ia diberi sepuluh kali lipat dari isi kantong sebelumnya. Laki-laki itu berkata, maha benar Allah dengan firmanNya, “ Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. “ (QS. Al An’am ; 160)

Adanya kisah-kisah ini semoga mengokohkan keimanan kita dan menyuburkan amal shalih kita.

Wallahu’alam bi shawab.

 

Referensi : Semua Ada Saatnya, Syaikh Mahmud Al-Mishri, penerjemah : Ust. Abdul Somad, Lc, MA.


Seorang hamba Allah bernama lengkap Ratih Nuraini Lathifah ini gemar minum teh di pagi hari. Pernah menyelesaikan pendidikan di jurusan Teknik Fisika ITS Surabaya dan kini menikmati aktivitas sebagai ibu bagi kedua anak lelakinya. Minatnya cukup besar terhadap dunia kepenulisan, bersama temannya pernah menuliskan buku parenting, “ Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku”  yang diterbitkan oleh Qultummedia dan buku antologi cerpen, “Serpihan Kenangan” yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Beberapa buku lainnya dicetak secara indie, antara lain, “Kasih Ibu Menembus Batas”, “Selaksa Cinta Berjuta Warna”, dan “Asyiknya Menulis”. Kini terlibat dalam jajaran redaksi blog “Kelas Kayu”, dan mendedikasikan diri untuk mengisi pelatihan kelas menulis di Sekolah Alam Indonesia.

Dapat dihubungi melalui email : menantupakhamid@yahoo.co.id