Sebab Cinta adalah Anugerah

Cinta — semoga engkau dimuliakan Allah — awalnya (boleh jadi) adalah senda gurau dan akhirnya adalah kesungguhan. Maknanya sungguh sulit dilukiskan (dengan kata-kata). Cinta tak dapat difahami kecuali dengan dirasakan (sendiri). Karena itu, ia tak ditolak dalam agama, dan tak juga dilarang oleh syariat; sebab hati (adalah) berada di genggaman Allah subhanahu wata’ala.

الحُبُ – أَعَزَكَ اللَهُ – أَوَلُهُ هَزْلُ وَآخِرُهُ جِدٌ. دَقَتْ مَعَانِيهِ لِجَلَالَتِهَا عَنْ أنْ تُوصَف، فَلَا تُدْرِكُ حَقِيقَتُهَا إِلاَ بِالمُعَاناَةِ. وَِلَيْسَ بِمُنْكَرٍِ فِي الدِيَانَةِ وَلَا بِمَحْظُورٍ فِي الشَرٍيعَةِ، إِذ القُلُوب بِيَدِ اللَهِ عَزَ وَجَلَ.

وَمِن الدَلِيلِ عَلَى هَذَا أيْضاً أَنَكَ لاَ تَجِد اثْنَيْنِ يَتَحَابَانِ إلاَ وَبَيْنَهُمَا مُشَاكِلَةٍ وَاتفَاقِ الصِفَاتِ الطَبِيعِيَةِ لَا بُدَ مِن هَذَا وَإنْ قَلَ، وَكلُمَا كَثُرَت الأشبَاه زَادتْ المٌجَانَسَةِ وَتَأكَدَت المَودَة فانظٌرْ هَذَا تَراهُ عَيَاناً، وقول رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤكده: “الأرْوَاحٌ جُنٌودٌ مُجَنَدة مَا تَعَارف مِنهَا ائتَلَف وََمَا تَنَاكَر مِنهَا اخْتَلَفَ”، — ابن حزم الاندلسي

Dan di antara tanda-tanda (keutuhan cinta) adalah engkau tak dapatkan dua orang yang saling mencinta itu kecuali bahwa ada keserasian dan kesamaan sifat yang sangat mendasar (di antara keduanya); betapapun sedikitnya. Dan semakin banyak kesamaan, maka akan semakin utuh rasa (cinta) itu; semakin memperkokoh saling sayang; begitulah kenyataan yang engkau dapati secara kasat mata. Karena itulah, Rasulallah saw berkata, “ruh adalah (bagaikan) pasukan yang saling menyatu; mereka yang saling kenal, semakin merekat; mereka yang saling berselisih; selalu bertentangan”.

Kutipan di atas saya ambil dari buku Ibn Hazm al-Andalusi, طوق الحمامة في الالفة والالاف (Kepak Merpati tentang Cinta dan Berjuta Rasa).

Cinta laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa dan, seperti kata Sapardi Djoko Damono, “kayu kepada api yang menjadikannya abu”

Maka semakin banyak kesamaan visi membangun rumah tangga, kekuatan cintamu akan terus bergelora. Ia sulit berpisah, bahkan hanya untuk sesaat. Seperti sebuah syair dari lagu klasik Barat berikut ini:

The sweetest dream, I dream with you
You’re my sunshine when
Troubles made me blue
I’am so alone now that you go
I didn’t mean to hurt you
Come back where you belong

Yes I know I know I’m Gonna loose you
But my shoes keep Running back to you
“Cause they know, there
Never be another
There will never be Another you

Hidup dalam rumah tangga penuh cinta adalah saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, dan terus menerus membangun pengertian.

Alkisah, suatu hari, sepasang suami-istri bertengkar. Dengan nada keras, suami memarahi isterinya. Sang istri tak mau terima, namun tetap dalam emosi yang terjaga. Diam-diam, dia mengambil koper dan memasukan pakaian-pakaiannya. Singkat cerita, istri itu marah. Dia ingin pulang ke rumah orang tuanya.

Demi menyadari sang istri berada di tengah puncak kemarahannya, suami menghampiri, tersenyum penuh kewibawaan, memeluknya, dan bertanya dengan nada yang sangat lembut, “Mama mau kemana?” Sungguh, senyuman dan pertanyaan itu meluluhkan hati sang istri. Dia menjawab, “Aku cuma ingin merapikan baju ke koper, kok, Pa”.

Subahanallah, sungguh benar ketika Rasulallah SAW berpesan,

إنما النساء شقائق الرجال ما أكرمهن إلا كريم وما أهانهن إلا لئيم

“Sesungguhnya, wanita adalah belahan laki-laki. Tidaklah kalian menghormati mereka, kecuali bahwa kalian akan mendapat penghormatan. Dan tidaklah kalian melecehkan mereka, kecuali bahwa kalian akan dilecehkan pula”.

Bersama perjalanan waktu, pasangan muda itu telah menjadi kakek-nenek. Di suatu sore, mereka tengah asyik bercengkerama di taman kota. Dengan sabar, kakek itu menyuapi nenek dalam keindahan sisa-sisa gelora cinta. “Kenapa kamu telaten sekali menyuapi aku sampai kita setua ini?” tanya nenek itu memecah keheningan suasana. “Dulu, waktu kita muda, aku sudah banyak bersedekah”, jawab kakek. “Maksudnya?” tanya nenek lagi.

“Hubungan suami istri itu bernilai sedekah. Suatu hari, para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala? Beliau SAW menjawab, Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala”.

Nenek tersipu malu. Kerut di wajahnya menyisakan kecantikan di saat muda dulu. Ia teringat masa-masa penganten baru, saat bergaun putih dan dipeluk suaminya sambil dibisiki, “Aku menulis namamu beralaskan angin, aku menggambar wajahmu di permukaan air. Kutahu angin tak dapat bercerita dan air tak berdaya awetkan sketsa. Tak mengapa, sebab bagiku kau selalu ada dalam setiap masa”.

Kini kehidupan mereka telah senja. Di tengah kicauan burung dan nyanyian ranting, di taman kota yang asri itu, mereka merengkuh telaga kedamaian di masa tua. “Lalu kenapa terus menyuapi aku?” tanya nenek itu masih penasaran. “Sebab, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqas, “Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang dengannya engkau mengharap ridha Allah kecuali bahwa engkau akan mendapat pahala, bahkan pada setiap suapan yang kau berikan ke mulut istrimu juga”.

Semakin lama hidup berpasangan, gelora cinta bukan lagi seksual. Ia telah menjadi ekspresi kehidupan. Ketika suami mengecup kening istri sehabis shalat, misalnya, istri bahagia sebab mendapat perlindungan cinta.

Ketika isteri menghidangkan segelas teh pahit lalu tersenyum, suami terpuaskan. Sebait puisi pun dibuat suami untuk sang isteri.

aku tak memintamu untuk membuat perapian cinta
sebab kita tak lagi muda
cintailah aku secara sederhana
cukup segelas teh tanpa gula
sebab senyummu membuat semua manis terasa.

(inayatul/dakwatuna.com)