Sedekahnya Orang Beriman

Ratih Nur’aini Lathifah

Siang yang terik di bawah pancaran radiasi partikel-partikel helium dari bola besar berwarna kuning menyala di langit yang biru. Jika bukan karena kecintaan yang membuncah di hati para lelaki beriman, tentu mereka tak akan hadir di mesjid siang itu. Kecintaan yang dilandasi keimanan adalah kekuatan besar yang mampu menggerakkan raga para lelaki shalih untuk mengorbankan segala nafsu mereka demi mencapai janji Allah bagi kaum yang menunaikan kewajibannya. Tak terkecuali anak-anak lelaki yang mengikuti teladan dari para ayah mereka, melangkahkan kaki menuju ibadah sholat Jum’at.


“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( QS. Al Jumu’ah : 9)

Cinta yang tumbuh dengan dasar keimanan nan kokoh mampu mengubah segala rasa enggan menjadi sebuah semangat beribadah meski di bawah terik matahari yang cukup panas. Hari itu bertepatan dengan hari tasyrik, sehingga banyak anak yang masih libur sekolahnya. Maka mesjid pun kedatangan anak-anak yang beragam usianya.
Usai adzan dikumandangkan, khutbah pun digelar. Semua duduk mendengarkan dengan seksama ceramah dari khotib di Jum’at pekan keempat Agustus. Puncak rangkaian ibadah siang itu, semua menunaikan sholat 2 raka’at mengikuti gerakan imam.

Tanpa terasa ibadah Jum’at telah selesai ditunaikan. Namun ternyata banyak jama’ah yang tak juga beranjak meninggalkan mesjid. Mereka mengerumuni sebuah gerobak di halaman mesjid. Ada apakah gerangan? Masya Allah, seorang lelaki sedang melayani beberapa orang untuk menyediakan es cincau hijau. Awalnya cincau itu masih terlihat banyak, lama-kelamaan makin menyusut seiring dengan makin banyaknya yang datang mengerumuni. Lelaki itu cukup sabar dan sigap melayani konsumen es cincaunya.

Namun ada pemandangan luar biasa yang menyentuh hati di gerobak itu. Terpampang tulisan GRATIS besar-besar. Jadi ternyata es cincau manis itu tidak dijualnya, melainkan disedekahkan.
Seorang jama’ah mendekati gerobak cincaunya, dan dengan ramah sang lelaki bertanya, “ Mau 2 bungkus, Pak?”
Masya Allah begitu mulianya sang lelaki penjual es cincau yang menyedekahkan seluruh cincau yang dibawanya sehari itu. Es yang dibuatnya pun memeiliki kualitas serta rasa yang sangat enak. Kuahnya bertaburkan irisan nangka. Sehingga bisa dipastikan es cincau ini dibuat dengan sepenuh hati.
Betapa ternyata untuk bersedekah tak perlu menunggu masa jaya. Kita bisa belajar dari lelaki sholih yang menyedekahkan harta perniagaannya, dengan ketulusan yang tak diragukan lagi.