Spirit Ramadhan

Spirit Ramadhan

Bersama : Ust. Abdul Aziz Abudur Ro’uf

Bismillah

Shiam dan seluruh rangkaian ibadah yang ada di Bulan Ramadhan harus dimulai dari Rasa Keimanan Yang Sempurna. Iman seperti apa yang semestinya mengiringi hati setiap Mukmin dalam menyambut bulan Ramadhan ? Yakni : Iman yang penuh Semangat Menyambutnya.

Dan juga penuh Penghargaan dalam mengisi setiap waktu sepanjang bulan Ramadhan itu.

Maksudnya, kita tidak hanya semangat dalam Qiamul Lailnya saja, atau Shaum disiang harinya, atau mungkin hanya semangat ketika mengejar Lailatul Qadr pada i’tikafnya. Namun, semua waktu, sepanjang bulan Ramadhan harus dihargai dan diperhitungkan agar kita dapat mengisinya dengan ibadah yang maksimal. Adapun jenis keimanan yang Allah kehendaki dari hambaNya ketika bulan Ramadhan ada 3 macam, yakni :

  1. Keimanan yang Ihtisaaban,
  2. Keimanan yang Isti’maalan,
  3. Keimanan yang Sempurna terhadap Hari Akhir.

 

1.  Keimanan yang Ihtisaaban.

Adalah bentuk keimanan yang penuh aktivitas perhitungan dengan Allah. Maksudnya adalah dalam melakukan segala amal sholih kita harus melakukan perhitungan dengan balasan Allah sebagai alasan utamanya. Ada setidaknya 3 macam keimanan yang Ihtisaaban selama Bulan Ramadhan, yakni :

  1. Ihtisaaban terhadap ‘amalan yang hukumnya Wajib.
  2. Ihtisaaban terhadap ‘amalan yang hukumnya Sunnah.

–> amalan yang utamanya adalah melakukan interaksi bersama Al Qur’an.

3. Ihtisaaban terhadap amal2 yang terkait dengan Maal (harta).

–> seperti : infaq, shodaqoh, memberi makanan untuk buka puasa dlsb.

 

Hal yang perlu diingat adalah ketika seorang Mukmin dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah bahwa ketika dirinya sedang berinterksi dengan Qur’an maka berarti dirinya sedang melakukan 3 amal utama, yakni :

  1. Dia sedang BerDzikir,
  2. Dia sedang Beribadah,
  3. Dia sedang Thalabul ‘ilmi.

Jadi siapa yang banyak berinteraksi dengan Al Qur’an maka berarti dirinya sedang banyak berdzikir, banyak beribadah dan juga sedang dalam keadaan menuntut Ilmu. Dari Al Qur’an manusia akan banyak mendapatkan ilmu dan pelajaran dan yang utamanya adalah petunjuk, hingga mereka mampu mencari penyelesaian yang benar dari setiap permasalahan hidupnya.

Seperti misalnya : Ketika seseorang Mukmin sedang dalam keadaan kesempitan harta, maka Al Qur’an menganjurkan untuk banyak Istighfar. Atau ketika kita sedang merasa Ahlaqnya kurang baik, maka Qur’an menunjukinya agar melakukan Introspeksi diri terkait baktinya terhadap kedua orang tuanya.

Dalam menghadirkan keimanan yang Ihtisaaban maka seseorang perlu memperhatikan bagaimana hubungan dirinya dengan Allah. Yakni Hubungan Cinta kepada Allah harus terbangun sempurna dalam dirinya, sehingga muncul harapan untuk bisa bertemu denganNya. Semangat Mahabbatullah inilah yang harus mendasari kita untuk membangun keimanan yang Ihtisaaban. Harapan diri untuk bisa bertemu dengan Allah harus dimiliki oleh seorang yang beriman, karena hal ini merupakan sebuah keniscayaan.

Mari kita perhatikan Firman Allah berikut :

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Ankabuut : 5)

Adapun Sholat dan Dzikir Qur’an kita bisa menjadi indikasi kerinduan kita kepada Allah. Dan kita bertemu dengan ayat di atas maka sudah selayaknya kita memiliki rasa kerinduan yang semakin dalam untuk bisa bertemu dengan Allah.

Dan jika kita bertemu dengan ayat :

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus : 26)

Maka sebaiknya jika dimunculkan rasa takut dan khawatir jika kita tidak bisa bertemu Allah kelak. Oleh karena itu sebaiknya kita bersungguh2 dalam mengusahakan amal2 yang menjadi sebab pertemuan diri kita dengan Allah kelak. Hal ini sebagaimana disebut di dalam Al Qur’an :

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahf : 110)

 

2.  Keimanan yang Isti’maalan.

Maksudnya adalah keimanan yang penuh semangat dalam melakukan ‘amal sholih. Ketika seorang Mukmin ingin bermuamalah dengan Allah maka hal yang perhatikan adalah kesiapan dirinya untuk melakukan amal2 sholih sebagai ungkapan kesyukurannya kepada Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dituntunkan Al Qur’an :

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah : 152)

Amal sholih harus dilakukan dengan berorientasi pada padat aktivitas dengan terjaga penuh keihlasnya hanya ditujukan bagi Allah semata. Seorang Mukmin itu ketika dia mencintai Allah maka dia harus sadar bahwa rasa cinta itu adalah merupakan anugrah yg Allah berikan kepada dirinya. Karena segala kebaikan yang ada di dalam diri kita termasuk rasa cinta kita kepadaNya adalah kehendak Allah semata-mata, sebagai rahmat yang Dia turunkan kepada diri kita. Firman Allah :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(Surat Al-Anaam 111)

Oleh karena itu selayaknya kita selalu berdoa kepada Allah memohon agar senantiasa dimudahkan dalam beramal sholih dan mencintaiNya. Sesungguhnya jika Allah mencintai manusia maka Allah akan menjadikan hidupnya menjadi aktif penuh dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Sahabat Rasulullah bertanya tentang hal ini, ‘bagaimana cara Allah menjadikan seseorang aktif dalam hidupnya ? (Maka Rasulullah saw menjawab) -‘Yakni Allah akan menjadikan dia mudah dan ringan dalam melakukan amal sholih apapun. Dan keadaan ini akan berlangsung sampai dia meninggal dunia.”

Demikianlah gambaran keimanan yang Isti’maal.

 

3.  Keimanan terhadap Hari Akhir.

Keimanan terhadap hari akhir bagi setiap orang bisa jadi berbeda-beda tingkatnya. Tingkatan ini akan tergantung pada keimanan dirinya terhadap Al Qur’an. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an sbb :

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Surat Al-Anaam 92)

 

Allahu a’laam.

Walhamdulillahi Robbil ‘aalamiin.

 

Disusun oleh :

Jama’ah Tafsir Selasa

LTQ – Al Hikmah, Jakarta