Ujian pasti datang

Apakah manusia mengira mereka dibiarkan saja dengan mengatakan, “kami telah beriman,” kemudian mereka tidak diuji? (Al-ankabut : 2)
Dalam tiap-tiap episode kehidupan akan ada ujian, musibah dan kegetiran hari-hari yang pasti kita lalui. Tapi berakhirnya suatu ujian juga merupakan suatu kepastian. Dunia saja tidak abadi, apalagi apa yang ada didalamnya. Keyakinan inilah yang harus ada dalam hati seorang muslim. Qadha dan qadarnya pasti berlaku disetiap zaman, sejak awal kehidupan dimulai sampai sekarang. Musibah silih berganti, kemenangan dan kekalahan ada gilirannya, suka dan duka berebut mendampingi.
Betapa berat siksaan yang dialami Bilal bin Rabah, ketika terik matahari siang menyengat, dan memang waktu itu sedang dimusim panas yang ekstrim, Ia dijemur tanpa mengenakan sehelai kain hingga kulitnya melepuh dan terbakar. Bahkan siksaan itu ditambah lagi dengan diletakkannya batu besar diatas tubuhnya yang kurus. Bilal merintih, tubuhnya juga terluka oleh permukaan batunya yang tajam, dadanya semakin sesak, “Engkau dalam keadaan seperti ini hingga mati atau engkau kafir kepada Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.” ancam Umayyah bin Khalaf. Tapi dengan singkat dan sikap yang ksatria, Bilal menjawab, “Ahad…ahad…”
Keluarga Yasir lebih tragis lagi, mereka bukan sekedar dijemur, tapi disiksa habis-habisan oleh orang-orang musyrik dari bani Makhzum, akhirnya Yasir ra dibunuh, sedang isterinya, Sumayyah ra, ditusuk duburnya dengan parang oleh Abu Jahal. Sumayyah menjerit keras kesakitan, hingga akhirnya Ia menemui ajalnya dengan cara syahid, jadilah Sumayyah sebagai syahidah pertama dalam Islam.
Dari goresan kisah ini menunjukkan bahwa ujian itu berada disuatu titik yang berjarak 180 derajat dari titik kenikmatan. Titik ini setidaknya perlu bekal kesabaran. Maka pilar utama dalam mengawali kehidupan adalah “kesadaran jiwa” yang selalu terkoneksi dengan “terminologi kehidupan”. Oleh karenanya kita perlu melakukan perenungan yang dalam nan panjang, apalagi mumpung masih awal tahun baru hijriyah, biasanya masih semangat-semangatnya menatap resolusi tahun baru. Ini hanya sekedar memanfaatkan momentum kegairahan jiwa, bukan tradisi ritual yang tak jelas akar sejarahnya.