Wanita dalam Islam Lemah

 

 

Oleh : Ratih Nur’aini Lathifah

Propaganda kaum feminis yang tersebar ke seluruh dunia secara gencar mengampanyekan bahwa kedudukan wanita dalam Islam sangatlah lemah. Anggapan bahwa Islam telah melecehkan kaum wanita menjadi senjata mereka untuk mendiskreditkan Islam sebagai sebuah agama yang tidak humanis.

Anggapan ini sebenarnya tidak berdasar, karena Islam turun membawa pesan keadilan. Secara rinci Allah telah mengaturnya dalam sebuah surat yang bahkan diberikan penamaan dengan sebuah rasa penghargaan kepada kaum wanita.  Surat An Nisaa’ adalah surat keadilan dan kasih sayang, khususnya bagi kaum yang lemah. Sebagai sebuah kesinambungan dengan surat-surat sebelumnya, Allah melalui surat An Nisaa’ menjelaskan bahwa yang mengemban tanggung jawab di muka bumi harus memiliki kemampuan dalam menegakkan keadilan dan berlaku kasih sayang terhadap orang-orang yang lemah yang menjadi tanggung jawab mereka untuk melindunginya.

Menjadi istimewa karena di saat surat ini dinamakan dengan wanita, di saat itu pula Allah menegaskan bahwa yang mengemban tanggung jawab di muka bumi harus bersifat adil. Jika kemudian kaum feminis memberikan tuduhan kembali bahwa surat ini menjadi bukti Islam melemahkan posisi wanita, dapat diluruskan dengan sebuah pemahaman bahwa tujuan penamaan ini sama istimewanya dengan isi suratnya.

Penamaan surat ini sebabnya adalah apabila seseorang dapat berbuat adil terhadap istrinya dan menyayangi keluarganya, maka ia akan mengetahui bagaimana harus berbuat adil terhadap kaum yang lemah.  Disini letak keistimewaan penamaan surat ini yang dengannya seolah-olah Allah mengatakan, “ Sebelum Aku bebankan tanggung jawab kepadamu atas bumi ini, perlihatkan kepadaKu keadilan dalam keluargamu. Jika kamu telah berbuat adil dan menyayangi keluargamu, pantas bagimu menjadi orang yang adil dalam masyarakat.”

Pada akhirnya tolak ukur keadilan bisa dilihat dari contoh sikap adil terhadap kaum wanita dalam sebuah keluarga, yang kemudian akan menentukan ukuran keadilan kaum muslimin dalam menjalani ujian kekhalifahan di muka bumi. Semua anggapan dan tuduhan kaum liberalis feminis mengenai ajaran Islam khususnya terhadap kaum wanita bisa terbantahkan. Terlebih dalam surat sebelumnya, surat Ali Imraanberbicara tentang sayyidah Maryam dan istri Imran sebagai contoh ideal mengenai sikap tsabat yang dimiliki keduanya.

Semoga semakin banyak kaum muslimin yang tersadarkan dari pemahaman keliru mengenai wanita dan kedudukannya dalam Islam.

Referensi : Kitab Khowatir Qur’aniyah