Yayasan Wihdatul Ummah Mengadakan Pelatihan Manajemen dan Tata Kelola Organisasi Pemuda dan Remaja Masjid

Remas3Masjid dalam Islam memuat tidak hanya dimensi normatif, namun juga, pada saat yang bersamaan, dimensi historis. Dimensi normatif yang dimaksudkan adalah bahwa masjid yang berasal dari bahasa Arab, pecahan dari kata kerja sajada – yasjudu, yang kemudian secara literlek bisa diartikan sebagai tempat sujud. Pada wilayah  teologis maknanya kemudian meluas menjadi tempat tertentu di mana seorang atau beberapa orang Islam mendirikan shalat yang mencakup sujud sebagai salah satu aktivitas utamanya. Dengan kata lain, masjid dapat  dilihat sebagai tempat didirikannya ‘ibadah kepada Allah SWT dalam pengertian yang sempit semisal ibadah mahdah, yaitu ibadah yang seluruh aktivitasnya diatur secara langsung oleh Syara’. Pada bagian ini dimensi religiusitas masjid terlihat langsung, di mana aktivitas di dalamnya memuat hubungan langsung manusia sebagai ‘abd dengan Tuhan sebagai Ma’bud.

Di sisi lain, dimensi historis memperlihatkan perkembangan peran dan fungsi masjid dalam realitas sejarah umat Islam dari sejak masa awal di zaman Nabi Muhammad saw sampai  saat ini. Contoh sederhana yang sering diungkapkan para sejarawan adalah masjid sebagai tempat pendidikan yang telah diperlihatkan oleh Nabi saw. Peran tersebut dimainkan terkadang menyatu dengan ritual ibadah lainnya, seperti pada khutbah Jum’at, namun tak jarang pula melalui forum-forum khusus yang diadakan untuk menyampaikan informasi terbaru tentang Islam untuk diketahui dan diamalkan oleh para sahabat. Peran ini terus berlanjut dari generasi ke generasi, sampai pada puncak zaman keemasan Islam di bidang ilmu pengetahuan, yakni pada masa Nizam al-Muluk di Baghdad, Madrasah Nizamiyah yang terkenal juga berawal dari pendidikan dan pengajaran yang berlangsung di mesjid, hingga melahirkan ulama-ulama besar di berbagai bidang ilmu.

Selain sebagai sarana pendidikan masjid juga telah berfungsi sebagai tempat berlangsungnya interaksi sosial  sesama warga masyarakat, sehingga berbagai problem kemasyarakatan yang timbul sehari-hari sering muncul dalam perbincangan dan dipecahkan secara bersama-sama oleh para jama’ah yang hadir. Contoh ini telah pula diperlihatkan oleh Nabi saw dan para sahabat, sehingga orang asing pun akan mudah berhubungan dengan  penduduk setempat dengan mediasi masjid. Di samping itu, Nabi saw sendiri pada masanya telah menjadikan  masjid sebagai pusat komando dan pengaturan pemerintahan di Madinah.

Untuk mengembalikan peran ideal tersebut tidak cukup hanya diceramahkan, tetapi diperlukan adanya kesadaran dan upaya sistematis dan terorganisir serta waktu yang berkelanjutan. Oleh karena itu maka subyek yang paling ideal untuk memainkannya adalah generasi muda yang relatif pikiran dan tenaganya paling segar  dibandingkan dengan orang-orang yang berada pada lapisan usia lainnya, dan dalam aktivitasnya mereka dapat merangkul dan berhubungan dengan kelompok usia lainnya, baik yang di atas maupun di bawah mereka. Asumsi ini juga didasari oleh tingkat perkembangan jiwa generasi muda yang kebanyakan masih mencari bentuk dan jati diri, sehingga perlu diberikan sarana yang tepat untuk memenuhi- nya.

Sejalan dengan kebutuhan dan asumsi tersebut, Yayasan Wihdatul Ummah mengadakan kegiatan Pelatihan Manajemen dan Tata Kelola Organisasi Pemuda dan Remaja Masjid di bulan Ramadhan ini. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat ber-Islam para peserta sehingga dapat mengajak ramaja yang lain untuk kembali ke masjid dan memakmurkan masjid seperti yang dicontohkan tauladan kita sampai akhir zaman Nabiullah Muhammad Saw. Untuk hidup terarah dalam kehidupan yang beruntung, salah satu caranya adalah dengan menjadi bagian pemakmur masjid. Hal itu disampaikan oleh Bapak Kemas Tumenggung Ketua Harian Yayasan Wihdatul Ummah dalam sambutannya pada pelatihan tersebut. Acara yang dihelat Divisi Pendidikan dan Dakwah Yayasan Wihdatul Ummah itu mengambil lokasi di ruang kelas WAMY.

Ust. Hafidz Hurumat, Lc selaku salah satu pembicara juga mengingatkan puluhan remaja masjid se-Kecamatan Jagakarsa untuk istiqamah menjadi pemakmur masjid. Apalagi, merujuk pada hadits Rasulullah Saw, orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid (rajolun qalbuhu mu’allaqun bil masajid) akan mendapatkan perlindungan pada Hari Akhir. Apalagi, bila mereka mencintai masjid dalam usia muda. Yakni, orang-orang muda yang tumbuh dan berkembang dalam suasana beribadah serta berupaya menyemarakkan masjid.

Selama proses kegiatan berlangsung, terlihat antusiasme para peserta. Ust. Ibnu El Hurry salah seorang pengurus inti Remaja Masjid Sunda Kelapa (RISKA) berbagi tips. Di antaranya perlunya menjaga kerja tim agar tetap solid. Caranya, harus sering-sering berkumpul dan mengobrol. Selain itu, selalu jaga suasana organisasi. “Kalau ada masalah, jangan dibawa ke organisasi. Jangan sampai  berlarut-larut, apalagi muncul masalah baru,” tandasnya.Remas2 Remas1