Melayani Dengan Hati

Pernah ketemu pelayan restoran yang jutek? Perawat Rumah Sakit yang galak? Sopir yang gak sabaran? Guru yang ogah-ogahan ngajar? Kalau jawabannya ya, berarti memang benar di negara kita ini masih banyak orang yang gak ngerti betapa pentingnya melayani.

Guru seharusnya melayani murid, dengan cara mempersiapkan materi dan metode terbaik sebelum mengajar, ketika mengajar pun dengan pembawaan menyenangkan. Perawat seharusnya melayani pasien dengan sigap dan ramah, bukannya bikin pasien tambah sakit gara-gara ngeliat tampang buteknya. Sopir juga seharusnya melayani penumpangnya, kalau kendaraannya sudah penuh sesak, jangan tambah penumpang lagi, apalagi plus marah-marah, dan menyetir dengan ugal-ugalan.

Banyak orang yang tidak bisa melayani dengan baik karena tidak sadar bahwa ketika kita melayani orang lain, sesungguhnya kita sedang membahagiakan diri kita sendiri.

Kisah berikut ini semoga bisa memberi kita inspirasi betapa bahagianya melayani dengan hati:

Jam dinding telah menunjukan pukul 23.20, terdengar suara seseorang di depan pagar rumah mengucapkan salam dan memanggil nama saya. Saya terbangun dari tidur, dan membukakan pintu, ternyata pak RT sedang berdiri di depan rumah, “Ada apa pak RT malam-malam ke rumah. Ada yang bisa saya bantu?”

Pak RT yang usianya kira-kira sama dengan saya itu menjawab bahwa ada warga yang meninggal dan membutuhkan mobil ambulan untuk membawa pulang jenasah dari rumah sakit. Bila menggunakan mobil ambulan dari rumah sakit perlu biaya, sedangkan keluarga musibah tergolong warga yang tidak mampu.

Mobil ambulan yang dimaksud adalah mobil ambulan Yayasan Wihdatul Ummah yang pernah saya pinjam juga sebelumnya untuk membawa jenasah yang merupakan tetangga kami beberapa waktu yang lalu ke pemakaman.

“Saya coba hubungi teman yang mengurus mobil ambulan itu dahulu ya, pak. Mudah-mudahan bisa dihubungi dan bisa dibantu.” Kata saya. Dalam hati saya berdoa agar dimudahkan. Saya cek HP ternyata pulsa belum diisi, namun saya tetap mencoba menghubungi dengan whatsapp call, walau saya mengetahui dengan aplikasi ini terkadang sulit untuk bisa terhubung dan bicara.

Satu kali, dua kali saya coba hubungi dan alhamdulillah akhirnya terhubung juga. Saya sangat mengetahui bila teman saya bernama Agung ini HP nya selalu ON dan mudah untuk dihubungi. Setelah salam dan mohon maaf bila menghubungi malam-malam, saya sampaikan maksud untuk meminjam mobil ambulan Yayasan Wihdatul Ummah. Terdengar suara siap di ujung telpon dan akan menghubungi kembali untuk kepastian supir yang membawa mobil ambulannya.

Sepuluh menit berlalu dan belum ada kabar, saya coba kirim pesan whatsapp kembali untuk menanyakan apakah bisa menggunakan mobil ambulan Yayasan Wihdatul Ummah. Tampil jawaban, “Sepertinya sulit cari supirnya malam2 gini… apa ana aja yg bawa?” dan saya diminta menemaninya. Segera saya jawab, “boleh akh”. Selanjutnya kami bersiap-siap untuk bertemu di kantor Yayasan Wihdatul Ummah.

Dalam perjalanan menuju kantor Yayasan Wihdatul Ummah, dalam hati saya mengucap syukur bisa membantu warga. Walau lelah setelah seharian bekerja, ditambah aktifitas lain di sore dan malam hari, kami masih bisa berkhidmat untuk warga.

Jam di HP menunjukkan pukul 00.10 dan kami telah sampai di kantor Yayasan Wihdatul Ummah. Ternyata ada sedikit kendala, kunci pintu kantor yang dibawa pak Agung tidak bisa membuka pintu, karena kunci pintu yang lain tergantung di dalam pintu. Kami mencoba untuk menghubungi via telpon penjaga kantor, mas Yanto yang tidur di dalam dan mengetuk pintu beberapa kali serta memanggil-manggil namanya.

Akhirnya pintu terbuka dan kami bisa mengambil kunci mobil ambulannya. Setelah mengecek mobil ambulan dan melakukan sedikit persiapan, kami berangkat menuju rumah sakit di sekitar Ragunan.

Pukul 00.45 kami sampai di rumah sakit yang dituju. Setelah menyiapkan jenasah ke mobil ambulan, kami berangkat ke rumah duka di Lenteng Agung.

Pukul 01.25 kami sampai di rumah duka, sudah banyak warga dan keluarga telah menunggu di lokasi. Alhamdulillah warga yang dipimpin pak RT bahu membahu membantu keluarga musibah, mendirikan tenda, menyiapkan kursi dll.

Setelah jenasah diturunkan dari mobil ambulan Yayasan Wihdatul Ummah dan disemayamkan di dalam rumah duka, pak RT menemui saya dan pak Agung. Beliau mengucapkan terima kasih dan meminta untuk bisa menggunakan mobil ambulan untuk mengantarkan jenasah ke pemakaman sekitar jam 10 pagi. Kami menyanggupinya.

Inilah arti sesungguhnya dari “MELAYANI DENGAN HATI”.

Jelas sekali, Anda tidak mungkin melakukan hal ini setiap hari. Tetapi, kalau Anda bisa membantu orang lain dengan segala keterbatasan yang dimiliki, hal ini tentu akan sangat berarti, dan mempunyai nilai bakti.

Perasaan senang karena bisa memberi ini tidak bisa dibeli dengan uang. Benar-benar momen spesial dalam kehidupan…

Setiap kita bisa berbahagia dengan melayani. Melayani ibu kita dengan membuatkannya secangkir teh hangat, melayani adik kita dengan membantunya mengerjakan PR, melayani orang-orang di sekitar kita dengan bersedia mendengarkan, bersedia membantu apa yang dibutuhkan.

Semoga kita memahami bahwa kebahagiaan sejati ada pada melayani, dan bukan dilayani.

 

Cerita di atas berasal dari kisah nyata dengan sedikit penyesuaikan.