Tulis & Baca

Kala aku lelah menulis & membaca,
Di atas buku-buku kuletakkan kepala,
Saat pipiku menyentuh sampulnya,
Hatiku tersengat,
Kewajibanku masih berjebah,
Bagaimana aku bisa berrehat?
(Imam An Nawawi)


Membaca adalah cara tuk membunuh rasa kagum pada diri sendiri. Sebab tiap kali bertambahnya ilmu membuat kita tertipu, mari bergegas menemui kefasihan Imam Asy Syafi’i, atau menghitung ketebalan Tarikh & Tafsirnya Ath Thabary, atau menunduk di hadapan 40 lembar seharinya Ibnul Jauzy, atau mengurutkan bidang karyanya Imam As Suyuthi.
.
Sedangkan menulis adalah cara tuk mencintai & berlomba dalam kebajikan dengan para mulia itu, hingga kelak moga kita terkejut ketika Allah menyerahkan catatan ‘amal. “Ya Rabbi, mengapa pahalanya sebanyak ini, sementara ‘amalku sedikit sekali?”
.
“Iya wahai penulis. Kau ini memang banyak dosa & sedikit ‘amalnya. Tapi pahala di catatan ‘amalmu ini berasal dari mereka yang membaca bukumu, lalu terilhami berkebajikan. Maka pahala ‘amal-‘amal mereka dicurahkan pula padamu, tiada henti & tanpa mengurangi ganjaran mereka sedikitpun.”
.
Ada sebuah kisah jenaka yang akan jadi renungan tak henti-henti bagi penulis yang tak boleh pupus belajar seperti kami. Adalah Al Imam Shafiyuddin Muhammad ibn ‘Abdurrahim Al Hindiy, seorang faqih madzhab Syafi’i di jazirah anak benua, sering mendapat cibiran orang bersebab tulisan tangannya yang jelek.
.
“Isinya masyaallah, tapi tulisannya inna lillah. Ilmunya anugerah, tapi khath-nya musibah”, demikian kira-kira dikatakan orang jika membaca bukunya. Ya, pada masa itu, dalam pencetakan buku, pelatnya masih tetap harus dijiplak dari tulisan asli penyusunnya.
.
“Suatu hari aku pergi ke toko buku, lalu aku mendapatkan sebuah buku yang tulisannya sangat jelek. Aku sangat yakin bahwa tulisan di buku itu jauh lebih jelek dari tulisanku”, demikian beliau berkisah. “Lalu aku membelinya dengan harga mahal, untuk membantah perkataan orang bahwa tulisanku adalah tulisan paling jelek. Tanpa menyeksamai isinya lebih dulu, aku membawanya pulang ke rumah.”
.
“Sesampai di rumah akupun membacanya”, pungkas beliau. “Ternyata buku itu adalah tulisanku yang dulu.”

Salim A Fillah
salimafillah.com