Ustadz Somad dan Momen Persatuan Ummat

Ustadz Abdul Somad atau yang terkenal dengan inisial UAS kini menjadi sorotan publik. Ulama asal Riau, yang mengambil gelar S1 di Al-Azhar Mesir, ini terkenal dengan gaya ceramahnya yang kental dengan logat Melayu, jenaka namun tetap bernas. Tak heran setiap kali UAS ceramah selalu dibanjiri jama’ah. Akan tetapi, ustadz yang meneruskan gelar keilmuan di Darul Hadits Maroko ini semakin menjadi sorotan setidaknya karena dua peristiwa.

Peristiwa pertama, penolakan safari dakwah di Bali pada Jumat (8/12) silam. Sejumlah orang yang tergabung dalam Ormas yang menamakan dirinya Komponen Rakyat Bali (KRB) sempat melakukan unjuk rasa di halaman Hotel Aston Denpasar tempat UAS menginap. Penolakan bermula dari klaim sepihak yang dituliskan di media sosial oleh salah seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Bali, Arya Wedakarna yang menuduh UAS sebagai tokoh yang anti NKRI.

Selain unjuk rasa penolakan, KRB juga meminta UAS untuk mencium bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk membuktikan bahwa UAS toleran dan tidak anti NKRI. Setelah melalui mediasi, permintaan ini akhirnya dipenuhi oleh UAS dan rombongan. Belakangan setelah mengetahui bahwa apa yang dilakukan KRB berupa persekusi akan dibawa ke meja hijau, Laskar Bali menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Melayu, khususnya Muslim di Riau sebagaimana dikutip Republika.co.id.

Peristiwa kedua, penolakan masuk ke Hong Kong. Melalui akun Facebook-nya UAS menceritakan kronologis peristiwa yang dialaminya Sabtu (23/12). UAS yang sampai di bandara pada hari itu dihadang sejumlah orang dan menariknya secara terpisah bersama dua rekannya.

“Mereka meminta saya buka dompet. Membuka semua kartu-kartu yang ada. Di antara yang lama mereka tanya adalah kartu nama Rabithah Alawiyah (Ikatan Habaib). Saya jelaskan. Di sana saya menduga mereka tertelan isu terorisme. Karena ada logo bintang dan tulisan Arab-nya” papar UAS dalam akun Facebook-nya.

Momen Persatuan Ummat

Dalam tabligh akbarnya di Masjid Jogokariyan Yogyakarta (20/10) yang berjudul Ukhuwah dan Kebangkitan Islam, UAS sempat menyampaikan bahwa sebelum mengenal istilah ukhuwah, bangsa Indonesia telah mengenal istilah saudara. Saudara bermakna satu perut. “Kalau sudah satu perut, jangan menyakiti” begitu nasihat UAS.

Berangkat dari hal itu, mari kita menjadikan apa yang menerpa UAS sebagai pembelajaran. Peristiwa yang dialami UAS hanya sedikit contoh pentingnya ummat untuk bersatu. Bersatu menyuarakan kebenaran. Bersatu membela ulama serta bersatu untuk melihat segala sesuatunya lebih adil bukan karena asumsi atau kebencian semata. Karena kalau kita terus membiarkan hal serupa terjadi, maka bukan tidak mungkin dakwah akan terhalang. Nasihat akan terhenti, ulama akan dikriminalisasi, ummat akan dibodohi.

Allahua’lam

(bds/wihdatulummah.org)